Trading dengan pivotpoint reversal

Trading dengan pivotpoint reversal

Pivot point adalah level yang menjadi acuan ke mana pasar akan bergerak. Dengan menggunakan perhitungan matematika sederhana, serta data high, low, dan close hari sebelumnya, kita dapat menghasilkan serangkain nilai yang disebut pivot level. Pivot point ini menjadi level support dan resistance bagi pergerakan pasar di hari tersebut.

Di forex pivot point ini begitu populer. Ini dikarenakan pivot point memberikan informasi dimana potensi harga berbalik arah atau terus bergerak. Karena banyak trader yang memperhatikan pivot point ini, maka seringkali pasar akan bereaksi ketika mencapai level-level tersebut.

Dari formula di atas kita akan mendapatkan 7 nilai, yaitu 3 nilai support, 3 nilai resistance, dan pivot point itu sendiri. Contoh seperti chart di bawah ini.

Dari ketujuh nilai tersebut, tiga level yang terpenting adalah pivot point, Resistance 1 (R1), dan Support 1 (S1). Jika pasar dibuka di atas pivot point maka kecenderungan untuk hari itu adalah bullish. Sedangkan jika pasar dibuka di bawah pivot point maka kecenderungan untuk hari itu adalah bearish.

Ide dari trading menggunakan pivot adalah untuk memperhatikan terjadinya reversal atau breakout di R1 dan S1. Saat pasar mencapai R2, R3, S2, dan S3 pasar akan berada dalam kondisi overbought dan oversold sehingga level ini dipergunakan untuk exit dan bukan untuk entri.

Ada beberapa cara trading menggunakan pivot point. Berikut ini beberapa contoh trading menggunakan pivot point dan menjelaskan kenapa beberapa memberikan hasil yang baik dan lainnya memberikan hasil yang tidak menguntungkan.

Pada awal sesi perdagangan EUR/USD diperdagangkan di bawah pivot point sehingga untuk hari tersebut kita cenderung mengambil posisi short. Harga bergerak membentuk channel sehingga kita menunggu terjadinya breakout. Pada kondisi seperti ini kita mengambil entri sedikit di bawah garis channel bawah dan stop loss sedikit di atas garis channel atas, serta target pada S1. Ini adalah salah satu teknik entri yang bagus. Namun masalah pada hari tersebut adalah target yang terlalu dekat (13 pips).

Setelah pasar bergerak ke bawah melewati S1, maka terjadilah pullback. Jika pasar bergerak di bawah support, yaitu harga terendah sebelum terjadi pullback, maka kita mengambil posisi short dengan target adalah S2. Sekali lagi yang menjadi masalah di sini adalah target yang terlalu dekat dengan entri. Namun pasar tidak mampu bergerak ke bawah sampai melebihi support dan ini menandakan sentimen di pasar mulai berubah.

Setelah itu pasar bergerak menuju S1 dan membentuk channel. Ini adalah salah satu set-up yang bagus dengan entri sedikit di atas channel dan stop loss sedikit di bawah garis channel bawah serta target pada pivot point. Jika kita trading lebih dari 1 posisi, kita dapat mengambil separuh profit pada pivot point, memperketat stop loss, dan memperhatikan pergerakan harga selanjutnya dengan target pada R1. Pada chart tersebut harga akhirnya mencapai R1 dan kita keluar mengambil profit.

Ada banyak cara untuk trading menggunakan pivot point. Salah satu cara adalah dengan menggunakan crossing dua indikator sebagai konfirmasi terjadinya breakout. Selain itu penggunaan MACD juga dapat mengkonfirmasi terjadinya breakout. Yang perlu diingat adalah indikator tersebut hanyalah sebagai alat konfirmasi dan bukan sebagai signal utama. Signal utama tetap breakout dari pivot levels.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *