Malaysia Jajaki Peluang Investasi di Jawa Timur

Malaysia Jajaki Peluang Investasi di Jawa Timur

Saifullah Yusuf. ANTARA/Eric Ireng

TEMPO.CO, Surabaya - Beberapa pengusaha asal Malaysia menjajaki kerja sama dengan pemerintah untuk menanamkan investasinya ke Jawa Timur. Ini terungkap dalam pertemuan rombongan dari Federation of Malaysian Manufacturing dengan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf di ruang Kertanegara, kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, kemarin.

Dalam kesempatan itu, Gus Ipul, sapaan Saifullah Yusuf, meyakinkan para pengusaha Malaysia untuk secepatnya menanamkan investasinya. Menurut dia, Jawa Timur merupakan daerah dengan iklim investasi terbaik di Indonesia. "Jawa Timur tidak ada macet, pasokan listrik dan gas tercukupi," kata Gus Ipul.

Selain itu, iklim perburuhan di Jawa Timur dinilai juga minim gejolak. Pemerintah memastikan akan memberikan kemudahan perizinan bagi investor asing. Dengan adanya Unit Reaksi Cepat (URC) yang dimiliki Pelayanan Perizinan Terpadu (P2T), izin usaha bagi pemodal asing dijamin akan selesai tak lebih dari 17 hari.

Menurut Gus Ipul, ketersediaan lahan yang terhubung dengan jalur tol, pelabuhan, dan bandara di Jawa Timur juga masih melimpah dan murah. Dia lantas mencontohkan daerah investasi yang bisa dimanfaatkan, di antaranya Pasuruan, Malang, Surabaya, Mojokerto, Bangkalan, Tuban, Lamongan, Gresik, Bojonegoro, serta Jombang.

Sepanjang 2008 hingga 2012, nilai ekspor dari Jawa Timur ke Malaysia juga terus meningkat sebesar 3,24 persen per tahun. Sedangkan impor Jawa Timur dari Malaysia meningkat sekitar 1,65 persen per tahun.

Komoditas nonmigas yang diekspor ke Malaysia, di antaranya bahan kimia dasar, besi baja, mesin otomotif, makanan, minuman, pulp, kertas, plastik, pengolahan kayu, serta barang-barang pengolahan tembaga, timah, serta alat elektronik.

Ketua rombongan Federation of Malaysian Manufacturing, Thomas Tan Eng Soon, mengatakan, kedatangannya kali ini untuk melihat dari dekat peluang investasi dan bisnis di Jawa Timur. Peluang ini, antara lain, dengan melihat faktor kepastian hukum, kemudahan perizinan, ketenagakerjaan, serta ketersediaan bahan baku. Selain itu, mereka juga melakukan penjajakan kerja sama di bidang sumber daya alam serta sektor jasa pendistribusian produk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *