20 Saham Diprediksi Cetak Gain Besar Tahun Ini

20 Saham Diprediksi Cetak Gain Besar Tahun Ini

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 20 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi memberikan capital gain besar tahun ini, yakni di atas 20%, melampaui prediksi pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) berkisar 12-15%. Sementara itu, 10 saham diproyeksikan memberikan total shareholder return di atas 13%.

Berdasarkan rangkuman wawancana Investor Daily dengan sejumlah analis dan laporan riset beberapa sekuritas, gain tertinggi diprediksi dicetak saham PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) sebesar 2.000%, dari Rp 5.125 ke Rp 107 ribu. Tahun lalu, saham TFAS menjadi salah satu bintang pasar modal Indonesia, lantaran melejit 2.747%. Saham teknologi lainnya, PT Digital Media Tama Maxima Tbk (DMMX), diproyeksikan berada di posisi kedua, dengan estimasi gain 1.000% ke level Rp 29.700. Tahun lalu, saham DMMX melesat 1.053%.

Selanjutnya, saham PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) diprediksi mencetak gain 120%, dari penutupan perdagangan 2021 sebesar Rp 1.810 ke Rp 4.000, diikuti PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) sebesar 97% ke level Rp 1.900, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebesar 66% ke level Rp 2.880, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) 55% ke level Rp 1.300, dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) 54,6% ke level Rp 1.500.

Prediksi Top Gainers di Tahun 0222 Prediksi Top Gainers di Tahun 0222

Sementara itu, return tertinggi ditaksir dicetak saham PT Bukalapak Tbk (BUKA) sebesar 175%, lalu PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) 40%, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 36%, PT Sido Muncul Tbk (SIDO) 33%, dan PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) 24%.

Kalangan analis menilai, lonjakan gain dan return saham di BEI bakal didorong kenaikan laba bersih tahun ini. Berdasarkan konsensus analis, laba bersih emiten 2022 diprediksi tumbuh 18%.

Sementara itu, beberapa broker menetapkan panduan bervariasi. Sebagai contoh, RHB Sekuritas memasang proyeksi laba bersih emiten 2022 sebesar 19%, sedangkan Macquarie Indonesia 20-25%. Khusus saham teknologi, kenaikan harga bakal ditopang pertumbuhan pesat ekonomi digital Indonesia serta rangkaian inovasi emiten. Tahun lalu saja, indeks saham teknologi naik 707%, jauh di atas IHSG sebesar 10%.

Pada 2021, bedasarkan data BEI, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi top gainers sebesar 10.370% ke level Rp 43.975, diikuti PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS) 5.775% menjadi Rp 5.875, PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) 4.386% menjadi Rp 7.075, dan PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) 2.123% menjadi Rp 1.625.

Masih Menjanjikan

Analis PT Sucor Sekuritas Hendriko Gani. Foto: IST

Analis PT Sucor Sekuritas Hendriko Gani. Foto: IST

Analis PT Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan, investasi saham masih menjanjikan pada 2022, seiring perbaikan ekonomi nasional.

Adapun varian baru Corona, Omicron, ditaksir tidak begitu memengaruhi indeks. Sebab, pasien kasus Covid-19 Omicron ternyata bergejala ringan.

Investor, kata dia, bisa kembali mengakumulasi saham-saham yang berpotensi mencetak gain besar, seperti perbankan, dengan memanfaatkan momentum IHSG yang masih cenderung sideways akhir 2021.

Sementara itu, untuk obligasi, tahun ini diperkirakan lebih fluktuatif, karena suku bunga akan dinaikkan oleh seluruh bank sentral dunia, termasuk Bank Indonesia (BI).

Dia menilai, saham perbankan berpotensi mencatatkan return tinggi tahun ini, ditopang pemulihan ekonomi dan pertumbuhan pinjaman.

“Kami melihat saham perbankan yang menarik dicermati adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), BNGA, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRRI),” ujar Hendriko kepada Investor Daily, Minggu (2/1).

Hendriko menyampaikan, target harga BBNI Rp 8.000, BMRI Rp 9.000, BBRI Rp 5.200, BBTN Rp 2.000 dan BNGA Rp 1.900.

Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya. Foto: IST

Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya. Foto: IST

Head of Reasearch RHB Sekuritas Andrey Wijaya menambahkan, IHSG pada akhir 2022 diprediksi menyentuh level 7.700 atau tumbuh 17%. Adapun laba bersih per saham (earning per share/ EPS) emiten diproyeksikan tumbuh 19,1%. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan indeks adalah percepatan aliran dana masuk ke pasar saham Indonesia semester II-2022.

“Sentimen lainnya adalah aktivitas new normal yang dipicu oleh harga komoditas tinggi. Ini bisa mendorong konsumsi lokal. Selain itu, langkah The Fed merilis quantitative easing (QE) akan sedikit memicu volatilitas, karena kepemilikan asing di saham rendah,” jelas Andrey dalam laporan riset.

Saham-saham yang dapat dilirik oleh investor, kata dia, adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), AGRO, CTRA, SMRA, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).

Target harga saham BBRI pada 2022 Rp 4.800, dengan EPS growth 27,4%, TLKM Rp 4.500, EPS growth 14,8%, ASII Rp 7.650, EPS growth 15%, ANTM Rp 3.450, EPS growth 14,8%, AGRO 4.000, EPS growth 105,6%, ACES 1.800 EPS growth 101,9%, CTRA Rp 1.500, EPS growth 10,7%, BBTN Rp 2.280, EPS growth 13,3%, SMRA Rp 1.300, EPS growth 59,4%, dan ERAA Rp 1.100, EPS growth 34,2%.

Pengamat pasar modal Budi Frensidy

Pengamat pasar modal Budi Frensidy

Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menuturkan, pemulihan ekonomi yang berlanjut tahun depan diharapkan menjadi faktor utama penopang kenaikan harga saham emitenemiten di BEI, terutama penghuni indeks LQ45.

Saham-saham indeks LQ45 yang bisa dicermati, kata dia, antara lain PT Astra International Tbk (ASII), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Dia menilai, kinerja keuangan Astra dan anak usahanya, Astra Otoparts, berpotensi besar meningkat, ditopang pertumbuhan ekonomi nasional yang diprediksi 5,5%.

Dia menambahkan, saham sawit, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) juga prospektif. Sebab, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diprediksi masih bertahan di atas US$ 1.000 per ton hingga semester 1-2022.

“Penyebabnya, suplai CPO ke pasar dunia masih terbatas, akibat lockdown yang dilakukan Malaysia, pemain utama sawit dunia,” kata dia.

Kiswoyo Adi Joe. Foto: BSTV

Kiswoyo Adi Joe. Foto: BSTV

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe menjelaskan, ada enam saham yang masuk rekomendasi dan bisa memberikan capital gain besar, yakni BBNI, BBRI, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), ASII, TLKM dan BMRI. Proyeksi ini sejalan dengan optimism IHSG mampu tumbuh ke level 7.500, dibandingkan penutupan perdagangan akhir 2021 sebesar 6.581.

“Saham-saham tadi berpengaruh sangat besar terhadap indeks. Pergerakan saham akan ditopang pemulihan kinerja keuangan mereka,” kata Kiswoyo.

Meski demikian, dia menuturkan, ada beberapa tantangan yang mesti dihadapi. Salah satunya potensi koreksi sementara pada Februari dan Maret 2022, jika IHSG sudah berkisar 7.000- 7.200, sebelum kembali menguat. Hal ini dipicu sentimen rencana kenaikan suku bunga The Fed.

“Tetapi, kita harus lihat sisi positif rencana itu. Sebab, ketika suku bunga The Fed naik, artinya perekonomian AS (Amerika Serikat) pulih. Dengan demikian, akan terjadi peningkatan konsumsi yang sangat besar sekali, sehingga menopang pertumbuhan ekonomi negara penyokong, seperti Indonesia,” pungkas dia.

Prospek Return

Ari Jahja, Head of Research Macquarie Sekuritas.

Ari Jahja, Head of Research Macquarie Sekuritas.

Di sisi lain, Head of Research Macquarie Sekuritas Ari Jahja menyebutkan, ada 10 saham yang layak dicermati para investor pada awal 2022, yaitu saham BMRI dengan estimasi total shareholder return (TSR) 23%, BBNI 36%, ASII 20%, KLBF 13%, BUKA 175%, INTP 23%, MIKA 40%, PRDA 24%, SIDO 33%, dan MAPI TSR 31%.

“TSR tersebut sudah termasuk dividen yield,” balas Ari singkat kepada Investor Daily baru-baru ini.

Perkiraan tersebut, kata Ari, merujuk pada pertumbuhan laba bersih emiten, seiring meredanya pandemi di Indonesia.

Selain itu, imbal hasil obligasi diprediksi naik signifikan pada 2022. Faktor pendukung lainnya, kata dia, adalah vaksinasi Covid-19 yang akan semakin masif, sehingga dapat mengurangi beberapa risiko penyebaran varian Corona terbaru, Omicron.

Belum lagi, aksi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham yang bakal semarak pada awal 2022.

Ari optimistis terhadap prospek 10 saham tersebut. Dia juga menyarankan investor untuk menghindari saham sektor rokok. Hal ini terjadi seiring naiknya tarif cukai rokok rata-rata sebesar 12% yang diberlakukan pemerintah pada pertengahan Desember 2021.

Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji. Foto: BSTV

M Nafan Aji. Foto: BSTV

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama juga merekomendasikan saham-saham emiten perbankan, seperti BBNI, BBRI, BMRI, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Bank Jatim Tbk (BJTM) untuk dicermati para investor pada 2022.

Selain itu, Nafan merekomendasikan saham yang bergerak di bidang olahraga, kids, dan leisure, yaitu PT Map Aktf Adiperkasa Tbk (MAPA) dan saham sektor energi, seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan saham properti, antara lain CTRA, dan SMRA. Alasannya, fundamental empat perusahaan ini diprediksi solid pada 2022.

Sementara itu, pengamat pasar modal yang juga pendiri Traderindo.com Wahyu Laksono menyatakan, pemodal perlu mencermati saham sektor komoditas, energi, digital, farmasi, dan perbankan, yang berpotensi mencetak return dan capital gain tinggi pada 2022.

“Saham sektor-sektor itu merupakan top picks pada 2021. Pada 2022, saham pilihan juga masih berada di sektor-sektor tersebut, dengan nama yang mungkin berbeda,” tutur Wahyu kepada Investor Daily.

Wahyu juga menilai, saham consumer dan konstruksi berpotensi berperforma lebih baik pada semester II-2022. Kemudian, transaksi saham teknologi akan lebih ramai dan mencetak kinerja lebih baik lagi pada awal 2022. Contohnya, saham DCII dan DMMX.

Dia menegaskan, ada 10 saham yang diprediksi mencetak capital gain besar pada 2022, yaitu DMMX sebesar 1.000%, TFAS 2.000%, ADRO 30%, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) 50%, TLKM 20%, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) 10%, BMRI 10%, BBCA 10%, BBNI 10%, ANTM 5%, dan ITMG 35%.

Melandainya pandemi Covid-19 akan menjadi motor pertumbuhan 10 saham tersebut. (mwd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *